Menteri Basuki Sebut Mandeknya Normalisasi Ciliwung Jadi Penyebab Banjir.

SHARE KLIK

Jakarta – Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono mengungkapkan penyebab terjadinya banjir DKI Jakarta. Sebelumnya, Basuki bersama Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Kepala BNPB Doni Monardo melakukan tinjauan udara untuk melihat 130 titik banjir se-Jabodetabek.

Menurut Basuki, faktor utama terjadinya banjir awal tahun ini adalah karena curah hujan yang terbilang cukup tinggi ketimbang biasanya.

“Curah hujan yang tinggi, bayangkan ya normalnya itu biasanya 50-100 milimeter (mm), ini menurut BMKG, itu saja sudah lebat. Sedangkan yang sekarang terjadi mencapai 377mm. Jadi bisa dibayangkan lebatnya dan itu panjang dari tadi malam sampai tadi pagi,” ungkap Basuki ditemui di Monas, Jakarta Pusat, Rabu (1/1/2020).

Ia menegaskan bahwa yang ia sampaikan bukanlah pembelaan semata, namun memang demikian kenyataan yang terjadi.

“Ini bukan excuse, tapi ini memang karena curah hujan yang tinggi,” tegasnya.

Guna meminimalisir dampak banjir, Basuki bersama pihak lainnya mengaku sudah menyiapkan pompa penyedot air.

“Pompa-pompa sudah disiapkan oleh Pemprov DKI dan mobil pompa juga sudah dikerahkan,” sambungnya.

Selain itu, tak kalah penting terkait normalisasi sungai yang menurutnya selama dua tahun belakangan tidak terjadi perkembangan yang serius.

“Ya, memang selama 2 tahun ini, sejak 2017 lalu tidak ada tambahan normalisasi di sungai-sungai yang ada, terutama Sungai Ciliwung, ternyata dari sepanjang 33 km itu yang dinormalisasi baru 16 km,” tambahnya.

Ditambah lagi, kondisi sungai-sungai yang sebelumnya sudah dilakukan normalisasi juga mengalami penyusutan lebar aliran airnya.

“Karena lebarnya sungai Ciliwung itu sudah sempit, lebarnya sudah berkurang, berarti harus kita lebarkan lagi. Tapi, kendalanya sekarang rumah itu bukan di bantaran saja, tapi sudah ke palung sungainya, ini juga bukan hal yang mudah (pembebasan lahan),” tuturnya.

Lalu, ketidaksiapan bendungan Ciawi dan bendungan Sukamahi pun dianggap menjadi dalang banjir kali ini. Menurut Basuki, lambatnya penyelesaian kedua bendungan itu terjadi karena sulitnya membebaskan lahan dari masyarakat setempat.

“Kemudian, Bendungan Ciawi dan Sukamahi, pembebasan lahannya sudah 90% lebih hampir 95%, kami targetkan tahun 2020 ini akan selesai,” katanya.

Untuk itu, ia menaruh harapan besar kepada Anies untuk segera menyelesaikan masalah pembebasan lahan agar normalisasi sungai lancar dilaksanakan, dan pembangunan bendungan pun rampung sesuai target.

“Ini keahlian beliau (Anies Baswedan) untuk persuasif dengan masyarakat. Kami akan mendukung beliau untuk programnya ini bisa ditangani, tanpa itu pasti akan terus menghadapi hal-hal yang terus berulang seperti ini (banjir),” pintanya. (Detik.com)

Loading...

Be the first to comment

Leave a Reply